Oleh SUTOMO

Sejak lama penulis memikirkan mengapa proklamator Indonesia adalah dwitunggal Soekarno-Hatta. Tidak misalnya Soekarno-Agus Salim atau Soekarno-Syahrir. Setelah membaca cerita Bung Hatta sendiri dalam otobiografinya, Untuk Negeriku (1979/2011), barulah terang bagiku.

Pada erah sebelum kemerdekaan memang dua orang itu yang paling menonjol. Soekarno mewakili aktivis pergerakan paling menonjol dari dalam negeri, hasil didikan Hindia Belanda dan tidak pernah bersekolah di luar negeri. Sedangkan Hatta mewakili aktivis pergerakan dari luar negeri melalui perkumpulan Perhimpunan Indonesia di Eropa khususnya negeri Belanda. Nampaknya pemimpin zaman itu tidak seperti kebanyakan politisi zaman ini yang kemaruk jabatan. Syahrir, Nazir Pamuncak, Agus Salim, Sartono, Supomo dan lain-lain berbesar hati mengakui kepemimpinan dwitunggal Soekarno Hatta adalah yang paling pas. Sekalipun dalam sejarahnya memang ada “insiden” juga yakni “penculikan” oleh para pemuda menjelang proklamsi yang sedikit banyak berpengaruh pada kulminasi terbentuknya dwitunggal itu.

Sedikit lucu bagiamana dwitunggal ini pertama bertemu dan kemudian menjalin persahabatan sekaligus “revalitas”. Lucu karena pelajaran sejarah selama ini, yang dikecap penulis di bangku sekolah, selalu menceritakan kebesaran kedua tokoh proklamator ini, terutama Bung Hatta yang nyaris tanpa cela, namun sedikit sekali menyinggung sisi yang lebih manusiawi, juga kurang menyinggung aspek hubungan antar personal kedua tokoh itu.

Sepulang Bung Hatta dari negeri Belanda setamat ia dari Handels Hogeschool (Sekolah Tinggi Dagang) tahun 1932 adalah saat pertama kali Bung Hatta dan Soekarno berkenalan. Waktu itu Hatta dibawa oleh Haji Usman pergi ke Bandung bertemu tokoh PNI di sana sekaligus bertemu Soekarno untuk pertama kalinya tanggal 25 September 1932. Pada pertemuan pertama di kediaman Soekarno, Astana Anyar, Bandung, tersebut, Soekarno sudah mulai nampak “mengukur” kawan barunya ini sekaligus mulai menanamkan pengaruh personal pada Hatta. Buktinya, diakhir pertemuan Soekarno menawarkan usul penggabungan Partindo dengan PNI-baru yang dipimpin Hatta. Tapi tawaran Soekarno itu belum dijawab tegas Hatta, selain harus minta pendapat kawan-kawannya dulu, tersirat Hatta dalam hatinya kurang sejalan dengan haluan politik Partindo khususnya Soekarno.

Bagi Hatta, pijakan pertama menuju Indonesia merdeka adalah menanamkan kesadaran kolektif pada rakyat akan situasi dan kondisi sebagai negeri terjajah dan kemudian menyadari hak-hak untuk menentukan nasib sendiri. Untuk itu, langkah pertama adalah melalui pendidikan yang akan menyemai kader yang militan dan terorganisasi baik. Jadi belum langsung membentuk partai. Makanya nama Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) diambil untuk nama perkumpulan baru yang dibentuk Hatta dan kawan-kawan.

Sedangkan haluan politik Soekarno lebih ke arah agitasi politik antara lain melalui jalur kepartaian. Soal agitasi politik nampaknya memang itu betul “bakat” Soekarno. Ia paling suka mengumpulkan massa lalu berpidato berapi-api mengobarkan semangat rakyat. Bagi Hatta agitasi begitu agak kurang masuk akal bagi pembentukan pondasi awal menuju Indonesia merdeka. Sebab agitasi tidak melahirkan keinsapan dan cara pikir yang matang.

Namun dalam pertemuan Hatta dengan Soekarno itu tercapai kesepahaman antara Soekarno-Hatta agar Partindo dan PNI tidak saling menyerang dan bisa berkerja sama dalam keadaan-keadaan tertentu. Belakangan kesepahaman ini dilanggar Soekarno dan kawan-kawan melalui artikel bernada menghasut dalam majalah Persatuan Indonesia Nomor 159 yang berjudul “Topeng Drs. Moh Hatta Terbuka! Pemimpin PNI Mau Djadi Lid Tweede Kamer! Awas Ra’yat Indoensia!” Tulisan ini intinya mengecam sikap politik Hatta yang nonkoperasi dengan Belanda tapi malah masuk dalam Tweede Kamer (Parlemen Nederland). Tulisan ini kemudian dijawab Hatta dalam harian Utusan Indonesia, majalah Daulat Ra’jat dan Sin Po.

Bantahan Hatta pada intinya bahwa ia tidak pernah masuk Tweede Kamer. Tawaran SDAP, partai kedua terbesar di Nederland, untuk masuk Tweede Kamer telah ditolak olehnya. Sebagai catatan kaki, haluan politik SDAP memang sama dengan Hatta dalam hal cita-cita politik “Indonesia merdeka secepat-cepatnya.

Begitu sengitnya polemik antara Soekarno (Partindo) dan Hatta (PNI baru) tersebut. Hatta pun membalikan argumen Soekarno dan kawan-kawan bahwa haluan politik Hatta “tidak nonkoperasi prinsipil” antara lain dengan menulis fakta: Soekarno meminta Tjipto Mangoenkoesoemo supaya ia bisa menerima Seokarno masuk Volksraad (DPR-nya Hinddia Belanda); Soekarno menjadi kampiun PPPKI yang sayap kanannya menjadi anggota Volksraad; Soekarno naik banding (appeal) ke Raad van Justitie waktu ia dihukum Landraad Bandung dibuang ke Boven Digul, karena naik bandingnya itu Soekarno bisa selamat dari pembuangan ke Boven Digul melainkan dibuang ke tempat yang lebih “enak” yaitu Flores, berbeda dengan Hatta, Syahrir dan lain-lain yang tidak mau tunduk sedikit pun dan bersedia dikucilkan ke Boven Digul Papua kemudian ke Bandanaira Maluku. Sehingga terlihat fakta Hatta lebih konsisten menjalankan politik nonkooperasi dengan Belanda.

Walaupun bertentangan dalam haluan politik pada waktu itu, Soekarno dan Hatta tetap bersatu dalam satu hal: perjuangan untuk Indonesia merdeka. Jadi keduanya masih berbesar hati dan tetap berkawan erat.(*)

Padang, 17 September 2011.